|
KETIKA kiprah militer dikoreksi reformasi, akibat deviasi dwifungsi dan
konspirasi dalam kehidupan sosial/politik pada masa Orde Baru, KH Abdullah
Gymnastiar (38) tak bergeming. Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid
(DT), Gegerkalong Girang, Bandung Utara, yang lebih dikenal dengan panggilan
Aa Gym ini tetap melanjutkan program latihan fisik bagi para santri dengan
gaya militer.
Baju, celana, dan sepatu, menggunakan seragam tempur, layaknya serdadu akan
menghadapi konflik fisik. "Di sini kepanduan namanya. Disiplin tidak selalu
militerisasi. Kita di sini menegakkan disiplin tanpa kekerasan dan
kekasaran. Tidak ada kekuatan tanpa disiplin," ujar Aa Gym yang lahir 29
Januari 1962 di lingkungan Kompleks Perwira Angkatan Darat (KPAD) Bandung Utara
itu.
Motto yang terakhir inilah yang menjadi dasar mengapa konsep serdadu itu
diterapkan untuk menggodok ratusan santri di pesantren yang menempati lahan
seluas kurang lebih 8.000 meter persegi di Jalan Gegerkalong Girang 38
Bandung ini. Ini juga merupakan bagian dari visi dan misi yang dijalankan di
pesantren ini yakni untuk mendidik santri menjadi ahli ikhtiar.
Selain menjadi ahli dzikir, ahli pikir, santri DT diarahkan menjadi ahli
yang berusaha mencari kemaslahatan duniawi (ekonomi/ikhtiar). Syaratnya
tentu ia harus memiliki daya tahan (endurance) yang bagus, gesit, dan
tangkas.
Aa Gym pun tidak memungkiri kalau ada pihak lain yang berpandangan lain
dengan latihan fisik seperti militer itu. Kiai muda ini menjelaskan, konsep
itu dikembangkan para santri untuk optimalisasi dalam rangka menjadi ahli
ikhtiar. Menurut dia, pelatihan fisik ini bukan untuk berkelahi atau
mematahkan lawan. "Bagi kami menaklukkan lawan dengan kekuatan fisik adalah
merupakan kelas yang paling bawah," katanya.
Menaklukkan lawan tidak harus dengan kekuatan fisik tetapi dengan kearifan,
kematangan, dan keteguhan pribadi. Pernah suatu waktu seorang santri DT ada
yang menganiaya, padahal kalau mau banyak peluang pihak DT untuk
membalasnya. "Kami pecahkan semua itu dengan silaturahmi. Alhamdullilah
semuanya selesai dengan baik," ungkapnya.
***
MENGAPA manajemen kalbu? Aa Gym mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa manusia
itu sangat tergantung pada kalbunya (hatinya), kalau hatinya busuk
perilakunya, busuk pikirannya, dan busuk pula akhlaknya. "Kalau hatinya
sehat, pikirannya sehat, cara berbicaranya serta tindakannya juga sehat,"
tuturnya.
Kalau badan disehatkan, tetapi kalbunya tidak disehatkan, maka kesehatan
badannya membawa masalah. Otak dicerdaskan, hati tidak disehatkan,
kecerdasannya juga akan membawa masalah. "Makanya membangun apa pun tanpa
berbasis atau manajemen kalbu, saya khawatir puluhan tahun bangsa ini akan
begini saja, bahkan mungkin lebih parah," katanya.
Aa Gym menuturkan, bangsa ini butuh kesungguhan untuk menyadari bahwa segala
urusan tidak hanya bisa diselesaikan dengan kekuatan berpikir dan fisik,
tetapi harus dengan kekuatan rohani. Dan, ini kelihatannya belum menjadi
sebuah program dari pemerintah bagaimana membangkitkan kekuatan rohani
masyarakat, kekuatan nurani, dan kekuatan ruhiyah.
"Sudah terbukti ternyata kecerdasan, material, dan kekuatan fisik tidak
menyelesaikan persoalan bangsa ini, karena kekuatan nuraninya pudar.
Akibatnya semua kekuatan yang ada, baik kekuatan pikiran, maupun kekuatan
fisik, akhirnya untuk saling mendzolimi satu sama lain," kata kiai yang
pernah mengenyam pendidikan formal di Universitas Padjadjaran (Unpad),
Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Jenderal A Yani (Unjani)
Cimahi itu.
Putra pertama Letkol (Purn) H Engkus Kuswara itu mengharapkan kesungguhan
pemerintah untuk bersama semua elemen, membangun bangsa berbasis kekuatan
nurani. "Saya kira sesederhana apa pun materi, sesederhana apa pun berpikir,
kalau nuraninya hidup, dia bisa sinergi. Insya Allah," kata kiai muda yang
kini harus mengatur waktunya secara ketat untuk memenuhi berbagai undangan
ceramah di berbagai kota hingga ke luar negeri.
***
SEKARANG ini saatnya bangsa ini melakukan evaluasi, untuk bisa lebih
mengokohkan energi, ketika akan kembali mengarungi hidup. Dalam evaluasi
ini, ia menganjurkan agar setiap orang mengukur dirinya. "Kalau kita hanya
sekadar kelingking jangan berbuat seperti kepalan tangan. Kalau berbicara
Indonesia, tentu terlalu besar buat saya," kata suami Ny Ummu Ghaida
Muthmainnah ini.
Namun, kata dia, perlu dipahami bersama bahwa energi kita sama-sama
terbatas. Kalau kita salah menempatkan diri, maka akan terjadi pemborosan
waktu, pemborosan energi dan kurang produktif. Analoginya sederhana saja,
waktu dan tenaga terbatas. Kalau itu tidak dikelola maka akan boros. "Sayang
kalau kita berbicara justru menambah masalah dan sayang kalau bereaksi
justru memperuncing masalah," tuturnya.
Untuk itu, strategi dakwah yang dilakukan di pesantren ini justru menguatkan
ke dalam. Pertama, menguatkan setiap personal, supaya lebih siap menghadapi
hidup ini, dengan cara positif. Kedua, meguatkan keluarga-keluarga supaya
siap menghadapi situasi sesulit apa pun. Jangan sampai sudah sulit dia tidak
bisa mengantisipasi kesulitan ini. Ketiga, membangun kebersamaan atau
komitmen bersama di masyarakat supaya memiliki pola hidup sinergi yang lebih
positif, tidak boros emosi, tidak boros uang, tidak boros waktu, dan tenaga.
Tekniknya dibuat modul contohnya dulu, sebab harus ada contoh baik secara
personal maupun lembaga yang membuat masyarakat bisa melihat dengan nyata.
"Kita bangun sistem pendidikan supaya masyarakat jadi tahu. Diselenggarakan
pelatihan supaya mereka jadi bisa. Dilakukan pembinaan supaya konsisten
dengan bantuan multi media, baik radio, televisi, media cetak secara
sistematis berkesinambungan."
Pembangunan pesantren yang memiliki 300-an santri dengan jamaah yang cukup
besar di seluruh Tanah Air itu dimulai dengan mengontrak dua kamar di
kawasan Gegerkalong Girang atau bertetangga dengan Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI) Bandung tahun 1987. Diawali dengan pengajian 10 orang
santri, pesantren itu dikembangkan melalui wadah usaha Kelompok Mahasiswa
Islam Wiraswasta (KMIW). Kegiatannya berupa usaha kecil-kecilan seperti
sablon dan percetakan.
Dalam waktu yang relatif singkat, kegiatan itu berkembang menjadi Yayasan
Daarut Tauhiid yang mengelola pesantren, Wartel, minimarket dan usaha
lainnya senilai lebih dari Rp 10 milyar. Tempat kos yang dulu dikontraknya
sudah dibeli dan diperluas menjadi kompleks pesantren, masjid, ruang
pendidikan/pelatihan, perpustakaan dan lain-lain.
Konsep manajemen kalbunya makin diminati banyak orang terutama kalangan
muda. DT pun dipercaya mengadakan pendidikan dan pelatihan manajemen untuk
para eksekutif di PT Telkom, BNI, IPTN, dan PT Kereta Api Indonesia.
"Kami tidak bergabung ke partai politik mana pun. Madzab kami Islam saja.
Kita tidak ingin membawa bendera baru. Namun, kita ingin mengembangkan
kesadaran kolektif di masyarakat, hidup dengan hati yang bersih, akhlak yang
mulia dan produktif.
''Kami menghindari apa pun yang bakal menjadi bahan konflik. Kalau ada
beberapa jalur pilihan, kami pilih jalur yang paling tidak menimbulkan
konflik. Kalau ada beberapa amalan, kami ambil amalan yang paling tidak
menimbulkan konflik.
''Ada yang bilang DT itu tasawuf, kami juga tidak mengerti itu. Di sini mah
orang-orang yang sedang belajar al-Islam, dan berusaha mengamalkannya secara
benar. Sederhana saja," tuturnya merendah.
|